Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Posted by Ruri on Jan 25, '10 1:35 AM for everyone

“Untuk Munir”

Album Para Pencari Keadilan

“Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat.” [Full Respect]

“Banyak yang pintar dan pandai berpolitik, tapi tak setulus Munir.” [Asfinawati]

Musik adalah bahasa universal yang bisa dinikmati oleh semua orang. Bahasa musik acap kali dipakai untuk mengenang kejadian-kejadian lampau yang mengandung momen sejarah, baik itu individual maupun kolektif. Musik juga kerap dipakai untuk menyebarluaskan gagasan, protes, bahkan cita-cita. Pada kedua konteks itulah, nilai musik menemukan ruang, waktu dan citranya.

Terkait dengan musik, Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) dan kantor berita radio KBR68H sejak akhir tahun 2007 hingga sekarang menggelar serangkaian kegiatan lomba cipta lagu untuk Munir. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari rangkaian kampanye penuntasan kasus Munir dan penyebarluasan gagasan serta keberanian Munir dibidang Hak Asasi Manusia.

Rangkaian kegiatan tersebut berupa, pengumpulan materi lagu untuk lomba, penjurian, pengumuman pemenang, produksi album dan launching. Untuk itu dengan penuh kerendahan hati, kami mengharapkan kerjasama dan bantuan dari teman-teman radio dalam mempromosikan album “Untuk Munir”.

Kegiatan ini didukung dan melibatkan banyak pihak. Ada Jockie Soerjoprajogo [musikus] dan Trie Utami [penyanyi] yang bersama Usman Hamid [aktifis] menjadi juri dalam lomba cipta lagu. Mereka telah menilai 132 peserta lomba dengan penuh pemaknaan dan penghayatan hingga mampu memilih sepuluh lagu terbaik dengan berbagai jenis aliran musik, mulai dari rock, blues, jazz hingga alternatif.

Album ini juga merupakan cermin bagaimana orang-orang menilai dan melihat sosok Munir. Para artis yang dalam kesehariannya punya aktifitas yang beraneka, mulai dari anak band, PNS, praktisi hukum sampai penjual soto. Mereka menerjemahkan sosok Munir ke dalam lirik dan syair lagunya sesuai dengan pengetahuan dan pengenalan mereka akan tokoh Munir, kiprahnya sebagai pejuang hukum dan HAM, serta kasus pembunuhan yang dialami.

Asfinawati adalah artis yang cukup dekat dengan figur Munir. Ketua LBH Jakarta ini menulis lagu ’Cahaya’. Sepertinya, ia mencoba merasakan, menyelami dan masuk ke dalam diri Suciwati, istri Munir, sosok perempuan yang ditinggal pergi pasangan hidup untuk selamanya. ’Cahaya’ dikemas dengan sentuhan jazz dengan suara piano yang dominan.

Di tengah kemarau tokoh pahlawan, Munir dianggap bisa mewakili figur ini. Munir dipandang sebagai pejuang yang berani, tidak kenal lelah, tulus, tanpa pamrih. Ada dua lagu yang menempatkan Munir sebagai sosok pahlawan. Doddy BJ dengan lagu ’Pahlawan Sejati’ dan Neps dengan ’Selamat Jalan Pahlawan Hak Asasi’. Doddy adalah PNS di Yogya merangkap penyanyi kafe. Sementara Neps adalah sebuah band keluarga dari Jakarta beranggota Dama Gaok [ayah – drummer], bersama keempat anaknya: Dosi [Bass & Vocal], Mila [Keyboard], Greep [Guitar] dan Riva [Violin].

Manusia langka. Itulah pendapat Jeffar L. Gaol, seniman musik yang karyanya sering dipakai untuk pertunjukan teater dan sinetron. Saking langkanya, ia yakin tidak akan lahir Munir-munir yang lain. Jebolan IKJ ini mempersembahkan lagu ’Blues Untuk Munir’. ”Munir adalah seseorang dengan gagasan yang membuat kita lebih manusiawi dan humanis,” ujarnya.

Munir adalah juga inspirasi di tengah rasa takut. Ia senantiasa menyalakan lilin-lilin keberanian ke sekelilingnya. Hidupnya penuh dengan perjuangan dan teror. Watak berani membela kebenaran ini memberi inspirasi Amir Sadewo, si penjual soto dengan hobi main gitar, untuk menulis lagu ’Masihkan Kita Takut’. Lewat karyanya, Amir berpesan bahwa orang tidak boleh melakukan kekerasan, penghilangan, pemaksaan kepada yang lain.

Nama arsenik lansung melejit bersamaan dengan pembunuhan Munir. Ini adalah sejumput serbuk racun yang menghentikan nafas Munir kala terbang bersama Garuda ke Belanda tahun 2004. ‘Arsenikum’ dipilih oleh Rengga Yudhistira sebagai judul lagunya untuk menandai momentum pembunuhan Munir.

Munir adalah tokoh besar yang membela orang-orang kecil. Hari-hari Munir tidak beda dengan kebanyakan. Naik motor ke kantor. Gemar ngelus-elus ayam jago sebagai hobi kala di rumah. Hidup Munir dipertaruhkan buat sesama. Ben & Friends, band dari Bandung, memetik potret Munir ini ke dalam lagu ’Before You Go’ yang kental dengan sentuhan country. “Buat Munir, gitu. Apa sih yang nggak kita korbanin? Munir aja berkorban untuk kita,” kata Ben.

Lagu ‘Untukmu’, lahir dari tangan Nur Iman oleh sebab yang terbilang sepele. Ia bertetangga dengan seorang dokter. Namanya Jamal, adik kandung almarhum Munir. “Biar Jamal dengar,” ujar Nur Iman.

Lagu ’paling keras’ dalam album ini adalah ’Mr. Ham’ karya Full Respect. Sebetulnya, lagu ini tidak dibuat khusus untuk Munir, tapi diakui terinspirasi oleh kematian Munir. Band bawah tanah yang diawaki diawaki Pay, Gana, Dedi, Tomi, Dani dan Nyong Kunci ini memang spesialis band berlirik kritik sosial. “Mengenang Munir harus dengan semangat. Rock penuh semangat,” kata Pay.

Aliran Modern Funk Rock juga hadir di album Untuk Munir lewat lagu ’Pain’, karya Ovalenz. Band asal Sidoarjo, Jawa Timur ini menulis lirik lagu Munir dalam bahasa Inggris seperti lagu ‘Before You Go’. Formasi Ovalenz adalah Rima [vokal], Ryan [gitar], Nazar [bass] dan Tito [drumer]. Band yang meraih berbagai kejuaraan ini punya motto : Life for Music not music for Life!

***

Ide membuat album Untuk Munir bukan berangkat dari keinginan untuk mencicipi manisnya bisnis musik. Melainkan oleh sebuah niatan kecil untuk turut memberi dukungan moral bagi upaya pengungkapan kasus pembunuhan Munir. Jejak kematian pejuang HAM masih meninggalkan tandatanya besar: siapakah sebetulnya dalang di balik pembunuhan.

Sejauh ini, upaya membuka dengan terang kasus Munir sudah banyak dilakukan oleh berbagai kelompok melalui jalur hukum dan politik. Tanpa meninggalkan apa yang sudah dilakukan, kami mencoba menggaungkan isu Munir lewat bahasa yang lebih bergaya dan populer. Membuat album musik menjadi pilihan sebab musik adalah bahasa universal.

Dengan album musik, Munir yang tadinya hanya menjadi urusan para pegiat HAM, aparat keamanan dan konsumsi politik para politikus, diharapkan bisa masuk ke komunitas dan ruang-ruang yang kental dengan gaya hidup dan budaya pop. Minimal orang akan bertanya: ”Siapa sih Munir? Kenapa Munir?”. Album Untuk Munir sekaligus merupakan cara kami memberi semangat kepada pemerintah untuk tidak ragu membuka tabir di balik pembunuhan. Keadilan Untuk Munir, keadilan bagi kita semua.

Eko Sulistyanto

Head of Promotion KBR68H

021-8513386

021-8513002 [fax]

08161314906


(Source: http://rebelzine.wordpress.com/2008/11/17/album-untuk-munir-press-release/)


Add a Comment
   

Ruri Nuruliarf

Reality bites! That's how the news work!